Kemandirian Ekonomi Pesantren

Pandemi Covid-19 memberikan dampak di semua lini kehidupan kita. Mulai dari kesehatan, ekonomi, sosial, hingga pendidikan. Pandemi ini turut mengubah pola hidup kita, yang paling mudah terlihat adalah kebiasaan menjadi lebih sehat dan higienis.

Selain itu, pola kerja dan belajar yang membuat kita terbiasa dengan pola remote. Sejak mewabahnya virus korona, sudah hampir tiga bulan lembaga pendidikan di Indonesia menutup rapat ruang-ruang kelas fisiknya. Ini juga dialami pesantren di seantero Indonesia.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan dan dakwah yang telah ada sejak ratusan tahun lalu di Indonesia. Saat ini, jumlahnya mencapai 25.938 pesantren, angka yang begitu masif dan besar pengaruhnya di tengah masyarakat.

Lantas bagaimana pesantren beradaptasi di tengah gejolak pandemi global dan mengambil hikmah untuk memandirikan pesantren?

Dengan melek digital, santri mampu melakukan perubahan dalam tiga aspek sekaligus: dakwah, sosial, dan ekonomi.

Literasi digital

Kemajuan teknologi digital turut memengaruhi pola pembelajaran di dunia pendidikan. Pembelajaran jarak jauh via gawai elektronik dan internet kian banyak tersedia. Menjadi penting, bagaimana literasi digital ditingkatkan agar mampu beradaptasi dengan zaman.

Itulah mengapa, saatnya dunia pesantren mengambil peran lebih. Literasi digital saatnya menjadi jembatan antara dakwah dan dampak ekonomi yang ditularkan di sekitar masyarakat.

Data per Januari 2020 di Indonesia menunjukkan, ada sekitar 175,4 juta orang yang menggunakan internet dan 160 juta di antaranya aktif di media sosial. Dari data itu, jelas terlihat ketergantungan masyarakat terhadap internet dan gawai sangat tinggi.

Di sinilah, pesantren harus berperan lebih. Perubahan medium yang didorong kemajuan digital membuat dakwah bisa semakin luas. Dengan melek digital, santri mampu melakukan perubahan dalam tiga aspek sekaligus: dakwah, sosial, dan ekonomi.

Apalagi di tengah pandemi ini, hampir seluruh pesantren harus memulangkan anak didiknya dengan alasan keamanan dan kesehatan. Literasi digital menjadi penting, mengingat dibutuhkan inovasi baru yang bisa digunakan dalam proses belajar mengajar secara daring.

Bayangkan, jumlah santri yang sangat masif menjadi ujung tombak memajukan lingkungan pesantren dengan pembaruan. Selain medium, materi pembelajaran pun sebaiknya menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Dengan masuknya literasi digital dalam kurikulum pesantren, santri bisa melek digital sedari dini. Untuk menyederhanakannya, bisa saja pintu masuknya digabung dengan beberapa materi pembelajaran yang “kekinian”, salah satunya pemasaran digital.

Ilmu ini menambah kecakapan santri saat lulus dan berkontribusi bagi masyarakat. Pun membuka wawasan santri yang tertarik memilih jalan ekonomi. Selain itu, pemasaran digital bisa digunakan untuk membumikan dan mendekatkan dakwah ke masyarakat secara luas.

Kewirausahaan

Dengan jumlah santri sekitar 4 juta di seluruh Indonesia, pesantren jelas menjadi salah satu lembaga pendidikan penghasil calon penerus masa depan bangsa. Mulai dari bidang pendidikan hingga pemberdayaan ekonomi.

Lulusan pesantren selain bisa berdakwah, harus bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Salah satu materi atau kecakapan yang perlu dipupuk di lingkungan pesantren adalah mengenai kewirausahaan. Kewirausahaan menjadi bekal bagi santri saat turun ke masyarakat. Turut berinovasi dan menghasilkan ide-ide usaha kreatif yang dapat meningkatkan ketersediaan lapangan kerja di tengah masyarakat.

Namun, jangan sebatas teori atau rumus di dalam kelas. Para santri harus merasakan langsung praktik kewirausahaan sejak di lingkungan pesantren. Banyak sektor yang bisa dikembangkan, mulai dari industri kreatif, seperti desain, fotografi, tekstil, kuliner, hingga aplikasi.

Ide menarik lainnya, pengembangan agro berbasis akuakultur. Akuakultur menjadi sektor yang sedang hits saat pandemi ini karena berhubungan langsung dengan ketahanan pangan. Mungkin ini hikmah besar pandemi agar pemerintah bisa berperan lebih besar.

Pengembangan agro berbasis akuakultur masih terhitung baru di Indonesia. Selain dekat dengan karakteristik Indonesia, pengembangan agro turut menciptakan lapangan kerja alternatif bagi masyarakat.

Pendekatan yang lebih modern membuat banyak lulusan milenial terserap ke dalamnya. Lalu, bagaimana penerapan pengembangan agro di pesantren? Bayangkan bila setiap pesantren di Indonesia setidaknya memiliki satu unit usaha produktif.

Maka itu, setidaknya ada 26 ribu sentra kewirausahaan produktif di seluruh Indonesia. Bisa di bidang industri kreatif, agro, ataupun pariwisata. Bukan saja dapat menjadi sumber penghasilan alternatif bagi pesantren, sekaligus mencetak santri produktif dan mandiri.

Berdakwah jelas menjadi hal utama yang harus dilakukan santri, prioritas memberdayakan ekonomi masyarakat dan mempertahankan keberlangsungan hidup pesantren.

Sebagaimana Rasulullah mengajarkan, keseimbangan hidup terjadi saat dakwah tetap hidup dan ekonomi masyarakat berdetak. Para santri akan menjadi penerus terkait masa depan dakwah juga kemandirian pesantren dan lulusannya.

 

Penulis : IRFAN WAHID, Anggota Dewan Penasihat KADIN Indonesia

Sumber : republika.id