Konsep Wirausaha Syariah Melalui Ahklak Rasulullah SAW

Wirausaha secara general diartikan sebagai sebuah kemampuan seseorang dalam menggunakan sumber daya finansial (money), bahan mentah (materials), dan  tenaga kerja (labor), untuk menghasilkan sebuah produk baru dengan bisnis baru yang dapat membuat organisasi usaha. Dalam melakukan wirausaha seseorang harus mempunyai kemampuan dalam melihat dan menilai kesempatan-kesempatan, menumpulkan berbagai macam sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dan mengambil tindakan yang tepat guna mematikan keberhasilan usahanya.

Konsep wirausaha dalam islam disebut dengan istilah tijarah (berdagang atau bertransaksi). Kewirausahaan Syariah merupakan masalah muamalah dan menyangkut dua dimensi, yakni dimensi secara vertikal sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT (hablumminallah) yakni bagaimana seorang wirausahawan melakukan usahanya semata karena Allah Swt yang mencakup perbuatan ibadah, takwa, tawakal, zikir dan syukur. Dimensi kedua yakni dimensi horizontal yang terkait dengan hubungan sesama manusia (hablumminannas), dalam hal wirausaha ini berkaitan dengan hubungan (human relation) seperti hubungan dengan karyawan, menjalin hubungan yang baik dengan pelanggan dan membangun konektivitas dengan masyarakat.

Islam mengajak semua muslim untuk menjadi wirausahawan dalam kehidupan mereka dengan diberikan aturan yang harus diikuti oleh semua muslim yang berasal dari Al-Quran dan Al-Hadits. Sebagaimana Allah Berfirman dalam QS An Najm: 39-40:”dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain aoa yang telah diusahakanya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya)”.

Pada kenyataanya sekarang ini, banyak orang menjadikan keuntungan sebagai satu-satunya motivasi dalam melakukan wirausaha, yang pada akhirnya menjadikan para wirausaha melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan lebih. Begitu pula di zaman modern ini semakin perkembanganya sistem dalam usaha dan transaksi yang semakin menjadikan bergesernya antara nilai dan visinya, seperti munculnya paham kapitalisme, rasa ketidak pedulian terhadap sesama, sifat ketidakjujuran yang terabaikan bahkan sistem transaksi yang memuat unsur ketidak halalan. Dalam hal ini etika dalam melakukan wirausaha menjadi sangat penting.

Perilaku atau etika dalam berwirausaha terutama bagi seorang muslim sangat diperlukan sebagai investasi dan dapat memberikan keuntungan dan mendapatkan jaminan kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Sebagai figur wirausaha dalam ekonomi islam, Nabi Muhammad saw. merupakan suri tauladan yang paling baik diantara banyaknya para pebisnis sukses saat ini. Kita ketahui bahwa sejak masa mudanya, beliau telah melakukan kegiatan wirausaha di daerah Mekkah bersama pamannya, Abu Thalib. Tidak hanya di daerah Mekkah, bahkan beliau telah melakukan perdagangan hingga ke penjuru negeri lain seperti Yaman, Syiria, Yordania, Irak dan lain-lain. Pada masanya beliau dikenal sebagai seorang pedagang atau wirausahawan yang professional, yakni karena beliau memiliki sifat jujur dan terpercaya, sehingga banyak mitra yang merasa puas dan saling memperoleh keuntungan.

Nabi Muhammad saw mengajarkan nilai kesadaran akan pentingnya sebuah etika, kejujuran dan perinsip-prinsip islam lainya. Jauh sebelum adanya prinsip manajemen sebagai suatu disiplin ilmu yang dikemukakan oleh Frderick W. Taylor dan Henry Fayol, Nabi Muhammad saw. Sendiri telah memberikan contoh kepada manusia tentang cara-cara berwirausaha yang berpegang pada nilai kebenaran, kejujuran, sikap Amanah, serta tetap memperoleh keuntungan.

Oleh sebab itu, agar dalam wirausaha umat muslim tidak menyimpang dan beretika, maka perlu mengetahui strategi atau cara berbisnis berlandaskan ahklak nabi Muhammad saw. Antara lain:

1. As-Sidiq atau jujur, jika seseorang sudah memiliki sifat jujur maka ia akan cenderung memiliki sikap integritas yang baik, rasulullah sendiri memiliki sifat As-Sidiq beliau dikenal dengan pribadi yang sangat jujur. Jika dalam dunia wirausaha saat ini kita sebut sebagai branding. Seperti sabda rasulullah “hendaklah kalian jujur (benar) karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan”. Maka dari itu kejujuran menjadi sangat penting karena merupakan bentuk dari kesungguhan dan ketepatan (mujahadah dan itqan).

2. Amanah, atau dapat dipercaya. Memiliki sifat amanah akan membentuk kredibilitas yang tinggi dan sikap penuh tanggung jawab pada setiap diri seorang muslim. Sifat amanah memainkan peranan yang fundamental dalam ekonomi dan bisnis, karena tanpa kredibilitas dan tanggung jawab ,kehidupan ekonomi dan bisnis akan hancur.

3. Ketiga At-Tabligh atau dapat menyampaikan, Wirausaha yang efektif merupakan kempuan menyampaikan komunikasi. Dalam sudut pandang kewirausahaan berbasis syariah, tuhan telah memberikan kemampuan Istimewa pada manusia, tentu sudah sepantasnya manusia juga memilih jalan hidup yang istimewa dengan kemampuan yang dimilikinya. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Ahzab:39: “Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan”.

4. al-fatanah atau  cerdas, sifat ini harus dimiliki oleh para penggelut wirausaha. Pengusaha yang cerdas merupakan pengusaha yang memiliki kemampuan dalam memahami, menghayati, dan mengenal tugas dan tanggung jawab usahanya dengan baik. Artinya bahwa dalam melakukan kegiatan-kegiatan wirausaha harus dilakukan berlandaskan sifat kecerdasan, yakni dengan memanfaatkan potensi akal dan fikran yang ada dalam mencapai suatu tujuan.

Nabi Muhammad saw. adalah prototipe sukses dalam melakukan spiritualisasi marketing. Nilai-nilai ahklak dari nabi Muhammad saw. mengajarkan bagaimana wirausaha seharusnya dapat dilakukan yakni dengan berlandaskan etika atau ahklak yang berupa sikap sidiq, Amanah, tabligh dan fatanah.

Penulis : Nimas Y Wakindiyah
Sumber : kompasiana.com